8.10.08
Aku Lintang yang Hebat!
Hai! Aku Lintang. Bolehkah sedikit saja aku menceritakan kisah hidupku? Entah kau akan terkesan atau bahkan merendahkanku. Boleh ya? Boleh kan? Baiklah, aku mulai kisahku.
Hari itu, hari pertamaku bersekolah. Sekolah kampung Muhammadiyah, yang gedungnya seperti gudang kopra yang nyaris tak terawat. Tapi tak mengapa, aku tetap bersemangat sekolah karena aku memang ingin sekolah. Aku ingin mempunyai banyak teman, aku ingin pintar, aku ingin jadi orang hebat.
Aku berangkat ke sekolah dengan ayahku, bersepeda sejauh empat puluh kilometer. Aku mengenakan pakaian seadanya, pakaian terbagus (menurutku) yang aku punya. Setibanya di sekolah Muhammadiyah, salah satu sekolah tertua di Belitong itu, hanya ada beberapa anak saja, bersama orangtuanya. Ada seorang ibu guru, yang kemudian kukenal sebagai Bu Mus, dan seorang bapak yaitu Pak Harfan, kepala sekolah.
Sejak saat itu, aku bersahabat dengan sembilan anak-anak ajaib di kelas. Kami menamakan diri Laskar Pelangi. Kami sering berkumpul di bawah pohon Filicium dan bermain bersama.
Aku suka sekali membaca. Tapi sayang, kok aku tidak pintar-pintar ya? Nilaiku jelek terus. Huhu, padahal aku ingin jadi orang hebat! Huh.. andai saja bila aku tidur dan terbangun, aku sudah menjadi orang yang super pintar dan sukses.
Pada hari yang gelap dan turun hujan deras itu, aku nekat lari ke luar rumah. Aku berteriak keras-keras, “Tuhan! Jadikanlah aku pintar! Agar aku jadi orang hebat! Tolonglah Tuhaan.. agar aku bisa mengubah kondisi keluargaku..!” Tiba-tiba, GLEGARRR! Hanya suara itu yang kudengar, ketika kemudian semua gelap. Aku dihampiri oleh seorang bule. Bule? Ah, rasanya aku pernah melihatnya.. Oh ya! Dia Einstein! Einstein, manusia terpintar! Mengapa dia mengunjungiku? Bukankah dia sudah meninggal? Baru saja aku ingin bertanya, ia berbicara.
“Kau Lintang?”
“…” Aku tak sanggup berbicara.
“ Hei, dengar tidak?”
“I.. iya, iya.. Benar, aku Lintang.”
“Kau tahu untuk apa aku datang?”
“Tt.. ti.. tidaak..”
“Kau punya potensi jadi orang pintar dan hebat, Lintang. Kamu sudah berusaha, tapi belum berhasil. Tuhan mendengar doamu, dan menyuruhku datang kemari. Aku ingin memindahkan kecerdasanku kepadamu. Mau?” katanya, meniru slogan khas sebuah operator telepon seluler yang menggunakan angka sebagai namanya.
“Bb.. bee.. benarkah?” Aku gemetaran.
“Ya. Dan jika kau terbangun nanti, kau akan menjadi cerdas, lebih cerdas dari anak seusiamu, bahkan yang lebih tua darimu.” jelasnya.
“Ah.. terimakasih sekali, terimakasih! Aku tak tahu harus bagaimana untuk berterimakasih kepadamu!” Mataku berkaca-kaca dan mulai menangis haru.
“Jangan berterimakasih padaku, berterimakasihlah kepada Tuhan.”
“Terimakasih, Ya Allah. Terimakasiiiiiih..”
Aku membuka mata. Banyak orang yang mengerubungiku. Ah, rupanya aku pingsan tadi. Tapi.. yang taddi itu betulan tidak, ya? Ah, semoga sajalah. Yang jelas, aku benar-benar mengharapkannya.
Esoknya di sekolah, Bu Mus baru akan menjelaskan tentang aljabar (aha, aku sudah kelas 1 SMP!), tetapi saat aku membaca di buku.. kok aku merasa, mudah sekali, ya? Setiap Bu Mus ingin menjelaskan, aku segera memotongnya dan menjelaskan panjang lebar. Bu Mus dan kawan-kawan ternganga kaget. Ikal yang sebangku denganku bertanya, “Kok kamu tiba-tiba canggih gitu, sih? Kesambet, ya?”
“Ah, engga kok, gatau nih kenapa, hahaha!” jawabku. Dalam hati aku berpikir, asyik juga nih, kalau pintar begini..”
Sejak saat itu, aku sering mengikuti berbagai lomba dan kompetisi ilmu pengetahuan. Aku berhasil mengharumkan nama Sekolah Muhammadiyah sampai ke seluruh Indonesia. Aku dikenal di mana-mana. Wah, hebatnya aku! Rasanya aku terbang makin tinggi.
Tapi sahabat-sahabat Laskar Pelangiku menjauh. Mereka bilang aku sombong, bagai kacang yang lupa kulitnya. Ah, masa sih?
“Lin, Lin, tolong ajari aku tentang Listrik Dinamis, aku tak mengerti..” kata Sahara merajuk.
“Ah, coba pelajarilah sendiri. Aku masih harus belajar yang lain.. Gampanglah itu.” ujarku tenang.
“Wah, sombongnya sekarang kau, Lin! Lupakah kau akan dirimu yang dulu? Lupakah kau akan persahabatan kita? Kau berubah, Lin!” Sahara membentakku.
“Betul itu, Boy! Jangan begitu lah, baru pintar saja sombong kau.” Mahar menyetujui perkataan Sahara, tetap dengan gaya khasnya.
“Ya, benar, kau sombong sekali! Tak pernah lagi kau berkumpul bersama kami di bawah pohon Filicium itu!” Ikal menyambung.
“Oh, ya? Masa, sih? Sepertinya aku masih sama..” Aku mengelak.
“Ah, sudahlah! Kau telah dibutakan oleh kecerdasanmu sekarang!” Sahara berteriak dan meninggalkanku, diikuti olehh yang lainnya.
Betulkah aku telah berubah?
Pulang sekolah, hujan turun dengan derasnya. Kilat menyambar-nyambar. Duh, bagaimana aku harus pulang? Bersepeda, empat puluh kilometer jauhnya, hujan deras, petir dan kilat menyambar-nyambar, dan aku tak menggunakan pelindung apapun. Belum lagi buaya itu. Ah, ya sudahlah, Bismillah saja. Aku masih bersepeda dengan tenang sampai ketika sebuah petir mengarah kepadaku. Sepedaku oleng, aku ketakutan.
GLEGARRR!!!
Gelap lagi.
“Lintang!!!” Suara yang sangat kukenal memanggilku.
“I.. iya.. Ein.. stein..” Lemah.
“Kau tahu apa kesalahanmu?” Tudingnya langsung.
“Tidak..”
“Ya ampun! Kau sudah bersalah dan tak sadar? Ckckck..”
“…” Aku diam.
“Kau telah menyalahgunakan kecerdasanmu! Kau sombong, bahkan kepada sahabat-sahabatmu. Tak sadarkah kau?” bentaknya.
“…”
“Karena kau telah bersalah, akan kucabut kecerdasanmu!”
“Jangan! Jangaaaan!” Aku memohon.
Aku membuka mata. Hujan telah berhenti, dan aku masih berada sangat jauh dari rumah. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Kembali bodohkah aku?
Ya ampun, aku lupa ilmu-ilmu yang telah aku kuasai!
Aku mempercepat kayuhanku. Beberapa ratus meter menuju rumahku, samar-samar aku melihat warna kuning melambai-lambai. Bendera kuning? DEG. Siapa yang meninggal?
“La ilaaha illallah.. La ilaaha illallah..”
Duh, siapa yang meninggal? Aku semakin gelisah.
Sampai di dekat rumah, aku disambut oleh ibuku. Ia mengenakan kerudung hitam, berpakaian hitam-hitam. Sambil menangis, ia berkata,
“Lin, ayah meninggal..”
Aku diam seketika.
“Karena.. apa.. Bu?”
“Tadi saat dalam perjalanan dari melaut, ia tertabrak truk saat menyeberang. Tabrak lari..” kata Ibu, lemas.
Ya Allah. Apalagi ini? Setelah aku bodoh kembali, sekarang ayahku meninggal. Otomatis aku harus menggantikannya mencari nafkah, karena selama ini yang bekerja mencari nafkah untuk sepuluh orang anggota keluargaku hanya dia. Aku pun sadar, ini semua karena kesombonganku..
Aku putus sekolah. Aku bingung harus bekerja apa, aku tak punya kemampuan yang berarti. Akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan sebagai pengantar barang di Toko Koh A Ciong. Hasilnya lumayanlah, bisa aku gunakan untuk menghidupi keluargaku sedikit demi sedikit. Sisanya aku simpan. Siapa tahu bisa sekolah lagi..
Satu tahun kemudian, uang yang terkumpul cukup banyak. Aku pun melanjutkan sekolah di SMPN 2 Belitong. Aku rajin belajar dan membaca, sampai akhirnya aku bisa menjadi yang terbaik satu angkatan dan lulus dengan nilai tertinggi. Oleh karena prestasiku, sebuah perusahaan swasta memberiku beasiswa untuk melanjutkan SMA sampai tamat S2 di Jerman.
Setelah mendapat gelar MBA, aku pulang ke Indonesia. Aku tinggal di Jakarta karena kupikir aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Dan ya, Alhamdulillah, aku sekarang telah menjadi seorang direktur perusahaan di bidang bisnin internasional, yang berkantor ddi bilangan Jln. Jendral Sudirman. Setelah sukses, aku memboyong keluargaku di Belitong untuk tinggal di Jakarta.
Tak kusangka, gedung tempatku bekerja juga merupakan gedung tempat kantor Ikal dan Mahar, sahabat Laskar Pelangiku! Suatu hari kami bertemu dan terkejut. Setelah nostalgia, mereka pun menceritakan bahwa sahabat Laskar Pelangi yang lain juga berada di Jakarta. Kami pun kemudian memutuskan untuk mengadakan reuni. Saat reuni, aku senang sekali, begitu pula mereka. Kami bernostalgia. Oh ya, hampir semua Laskar Pelangi sudah menjadi ‘orang’, kecuali satu, yaitu Syahdan. Ia adalah seorang OB di salah satu gedung di Jakarta. Namun, ia tidak minder.
Oh ya, aku masih single lho! Umurku sekarang masih tiga puluh tahun. Ada yang berminat? Kunjungi saja FS ku, profiles.friendster.com/silintanghebat. Dijamin, hidupmu pasti terjamin! Ups, aku mulai sombong lagi. Tidaaaaaaaaaaak!
sekian! ahaha agak konyol ya ceritanya. biarin lah. hehe.
ini adalah tugas bahasa Indonesia yang dikasih waktu kelas x. kata pak mufid waktu itu, bebas ceritanya mau gimanaa, yang penting berhubungan sama laskar. hemm.. yaudah, gue bikin deh cerita ini. jadiiii, buat om andrea, maaf ya kalo ceritanya jadi melenceng begini. ini adalah imajinasi saya yang kacau dan ga jelas. kebanyakan nonton sinetron sih. haha.
pesan moral yang dapat diambil dari cerita ini adalah, yang pertama: SEMUA HAL TIDAK DAPAT DIPEROLEH SECARA INSTAN. yang berbau instan kan lagi ngetren nih, sekarang ini. padahal sih ya, yang instan-instan itu menurut gue kurang. kurang perjuangan! HA! dengan mudahnya orang menjadi tokoh terkenal. terkenalnya juga cuma sebentar, kalo boleh minjem istilah LIA, namanya itu.. hmm.. aduh gue lupa. buku LIA nya ga ketemu. hehe. pokonya yah begitulah, dari jurang, puncak bukit, ke jurang lagi. dari rendah, tinggi, rendah lagi. dari nol, angka paling besaaaaaaaaaaaaaaar, nol lagi. intinya sih, semua butuh proses dan ada effort nya.
yang kedua adalaaaah, TIDAK BOLEH SOMBONG. kita adalah makhluk ciptaan Allah, yang teramat keciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiil dibandingkan dengan-Nya. masih beranikah kita berjalan dengan mendongakkan kepala serta menghentakkan kaki, berharap supaya orang melihat kita dan tahu bahwa kita, WOW, sementara Allah melihatnya? yang pernah ikut ESQ pasti tau deh. ini salah satu kalimat yang sering diucapin di seminarnya. hehe.
yang ketiga, TERUSLAH BERDOA DAN BERUSAHA SEKUAT MUNGKIN, SERAYA MEYAKINI BAHWA APA YANG DICITA-CITAKAN AKAN TERCAPAI. bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu, kata Arai.
yang terakhir, JANGAN SIA-SIAKAN SAHABATMU. jangan lakukan kesalahan fatal yang bisa merusak hubungan kita dengan sahabat kita, yang kita tahu sangat dekat dengan kita. bisa kacau!
kesimpulannya, ambil pesan-pesan moral dari cerita di atas, dan implementasikan dalam hidup. mungkin masih banyak pesan moral lain dari cerita ini yang bisa digali.
sebagai penutup, gue berharap postingan gue kali ini dapat bermanfaat dan menghibur kalian yang baca. Big thanks for you all! ^^v
Labels: my penfruit
12 stars were shining bright even without the moon